Jumat, 26 Februari 2016

WASILAH (Rubrik Budaya Ndomblong #6)

Perantara, dalam bahasa Arab disebut sebagai wasilah. Fungsi utamanya sebagai komunikator. Seseorang mengambil peran seperti ini pertama bukan karena keinginan sendiri. Peran seperti itu datang secara alamiah. Dasarnya karena dianggap seseorang itu dianggap luwes. Seorang yang mudah bergaul. Mampu mengomunikasikan dengan baik apa yang menjadi keinginan banyak pihak. Tidak semua orang cocok dengan peran ini. Sebabnya karakter setiap orang berbeda. 

Seorang yang mengambil peran seperti ini membutuhkan jiwa besar. Kesediaan untuk menjadi 'bak sampah', tempat setiap orang membuang keluh kesah. Harus siap menjadi 'bak penampungan', tempat setiap orang meminta dan mengusulkan sesuatu. Seseorang yang mampu mengambil peran seperti ini kebanyakan adalah tipe orang yang inklusif. Karakter pribadinya bisa diterima semua pihak. Dan tentunya orang ini punya integritas.

Kebutuhan pada seseorang dengan peran ini bermula dari perjumpaan sekian banyak karakter manusia. Setiap unsur dari karakter orang per orang itu tidaklah sama. Untuk sebagian besar barangkali saling bertentangan. Karena umumnya setiap orang berkeinginan untuk didahulukan jika terkait dengan kepentingan pribadinya. Seorang dengan peran inilah yang biasanya mampu mengambil posisi sebagai tempat klarifikasi.

Seperti teman saya, Tibob (TB. Ade Fahmi). Di komunitas di mana saya menjadi bagian itu Tibob adalah seorang yang tepat dengan peran ini. Dialah yang selalu menjadi pusat komunikasi dari semua anggota komunitas. Sebuah gagasan di komunitas tidak dapat terlaksana dan dikehendaki semua pihak kecuali bila teman saya itu mulai melakukan aksinya. 

Di setiap komunitas dan masyarakat tertentu dari setiap level sosial, jenis seorang dengan peran seperti ini pasti ada dan sosoknya adalah kunci. Meminjam Gramsci, sosok dengan peran seperti ini merupakan intelektual organik karena kemampuan utamanya dapat mempertemukan dan mengomunikasikan semua dan setiap kepentingan anggota komunitas. 

Apa yang membuat peran seperti ini ada di semua level sosial? Pada dasarnya manusia bukan makhluk sosial paling baik. Manusia lebih buas dari jenis hewan carnivora manapun. Tapi manusia juga lebih jinak dari hewan herbivora apapun. Kedua unsur ini ada pada diri manusia. Karenanya manusia disebut sebagai jenis hewan omnivora, pemakan semua yang dimiliki oleh kedua jenis hewan carnivora dan herbivora sekaligus. Pembedanya dengan kedua jenis hewan lain adalah karena kita mampu berbicara. Al insan hayawaanun naathiq. Manusia adalah jenis hewan yang dapat berbicara. 

Dengan berbicara kita mampu mengutarakan keinginan. Bisa mengekspresikan semua hal; keluhan, marah, susah, senang, dll. Batasan dari setiap kehendak yang kita utarakan adalah insting agresi yang inheren ada pada setiap orang. Peran seorang perantara itulah yang mampu meredam insting agresi itu. 

Dalam perkembangan berikutnya, perantara itu bermetamorfosa dalam bentuk lembaga-lembaga keterwakilan (perwakilan). Semua hasrat manusia agar tidak mengganggu sistim keseimbangan sosial dan alam diredam melalui lembaga-lembaga seperti ini. Meskipun demikian karena kecenderungan insting agresi kita tak punya tempat untuk mengalah, mengakibatkan lahirnya penyimpangan-penyimpangan.  Rasa tidak puas pada sesuatu melahirkan protes. Karena itu dibutuhkan ---kembali lagi--- jenis orang yang berperan seperti kita bicarakan.

Kita bicara revolusi mental dalam konteks apa yang saya kemukakan artinya mencoba bicara soal manusia sebagai subyek perubahan. Salah satu aspek penting dikemukakan di sini bahwa revolusi mental, berkait dengan keanekaragaman sosial seperti kita, haruslah bertumpu pada sistim pengetahuan di setiap komunitas atau masyarakat tertentu. Sebab sistim pengetahuan yang berjalan itu melahirkan perilaku. Ekspresi perilaku itu adalah produk budaya. 

Bicara soal budaya artinya kita sedang berpikir tentang kebudayaan dalam suatu komunitas atau masyarakat. Dus, berbicara revolusi mental dengan sendirinya adalah bicara tentang revolusi kebudayaan. Karena itu tanpa melihat aspek-aspek budaya dalam suatu komunitas revolusi mental hanya akan menjadi mesin produksi tanpa jiwa.
 
Wallahu a’lam.

By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation


Tidak ada komentar:

Posting Komentar