Kamis, 07 Januari 2016

ZIARAH (Rubrik Budaya Ndomblong #5)

Setiap singgah di warung kopi sebuah tempat ziarah saya selalu bertanya; bagaimana mereka –para ahli kubur itu—hidup? Bukankah setiap kematian itu hakikatnya sama? Orang-orang shaleh. Para begajul jalanan. Mereka yang hidupnya ugal-ugalan. Atau para salik (pencari kebenaran)? Kematian adalah berpindahnya ruh (jiwa) kita ke sebuah tempat entah bernama apa. Hampir semua keyakinan melihatnya sebagai perpindahan. Tubuh tak bergerak itu hanyalah bungkus dari jiwa-jiwa kita yang tak pernah mati. Hakikatnya mereka hidup. Hanya kehidupan mereka itu bukan di tempat yang disebut fana’ lagi. 

Kita sering menyebutnya sebagai “pulang”. Maka di setiap peristiwa kematian kita selalu mendengar berita tentang pulangnya si Anu atau kembalinya si Fulan. Menyebut kematian sebagai peristiwa pulangnya seseorang mengandung makna kesementaraan. Berpulangnya seseorang artinya kembalinya dirinya ke sebuah tempat yang dipahami sebagai sumber dari segala asal muasal. Dunia sebagai tempat sementara ibarat ruang atau tempat kita mampir untuk berikutnya melanjutkan perjalanan kembali. Karena sifat kesementaraan itu tidaklah lama. Orang Jawa menyebutnya dengan “urip mung mampir ngombe”. Hidup hanya sekadar mampir minum.

Tidaklah lama bagi seseorang untuk minum. Kita bisa mengukur seberapa lama seseorang minum. Tetapi jejak seorang yang minum itu tercatat di setiap persinggahan yang diampirinya. Selalu ada  ingatan atas diri seseorang. Ingatan itu bergantung dari seberapa kita meninggalkan kesan positif-negatif di tempat persinggahan, tempat mampir itu. Sebab ada saja mereka yang mampir minum lalu lupa pada kewajibannya. Semua kesan itu bergantung dari apa yang dilakukan kita di tempat singgah sementara itu.

Kembali pada pertanyaan saya di awal, bagaimana mereka hidup? Jika sampai hari ini bahkan sejak ratusan tahun sekian abad dari kematiannya, seseorang masih memberi  kehidupan bagi orang lain. Lihatlah betapa tempat-tempat ziarah itu tak pernah sepi pengunjung. Mereka datang silih  berganti. Dari tempat-tempat yang jauh. Butuh pengorbanan waktu, tenaga dan dana. Kegairahan untuk ziarah tak pernah surut.

Mobilitas datang dan perginya para peziarah itu berdampak langsung di tempat peziarahan. Melahirkan kebutuhan; tempat istirahat, warung kopi, penjual makanan dan minuman, aneka barang kerajinan dan tanda mata, peralatan ibadah, bahkan sekumpulan para pengemis setia menunggu lemparan koin demi koin dari setiap peziarah yang singgah. Ribuan bahkan puluhan ribu orang datang dan pergi memberi manfaat ekonomi kepada para pedagang, rumah-rumah sekitar tempat peziarahan. 

Rasanya sulit bagi saya untuk mengatakan hiruk pikuk para peziarah itu sebagai festival bid’ah. Apalagi sampai menyebutnya sebagai ritual syirik yang jauh dari ajaran agama. Saya tak bisa dan tak kan pernah sampai kemampuan membaca isi hati setiap orang. Bahwa mereka datang ke sebuah makam yang dikeramatkan dengan tujuan –hanya dirinya dan Tuhan yang tahu—bukanlah wilayah saya untuk menghakiminya. Tidaklah kita juga dapat mengerti niat dan hati seseorang. Kapasitas kita barangkali hanya mampu memaknai tindakan-tindakan lahiriah seseorang. Namun bukan berarti dengan kemampuan itu kita dapat menyimpulkan semua isi hati mereka, para peziarah itu.

Ziarah sebagai peristiwa sosial (budaya) dengan segala dampaknya --buat saya-- memberikan sebuah gambaran positif tentang seseorang yang diziarahi. Saya yakin mereka yang diziarahi itu pastilah orang baik-baik di waktu hidupnya dulu. Keyakinan saya  tidak berubah. Mereka di masa lalu pasti telah melakukan sesuatu untuk orang banyak. Mendoakannya hakikatnya adalah mendoakan diri sendiri. Manfaat itu  kita rasakan hingga kini. Mengetahui sejarah bagaimana mereka hidup adalah cermin. Ia memantulkan jejak pembelajaran pada kita. Maka mendatanginya (menziarahinya) adalah ungkapan dari rasa syukur kita atas apa yang dilakukannya di masa lalu. 

Rupa-rupanya sedikit dari kita mau belajar tentang cara mereka hidup. Menganggapnya sebagai masa lalu yang tak perlu ditengok. Kita adalah generasi alpalupa. Kita tak lahir dari ruang hampa. Dan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari masa lalunya. Wallahu a’lam

“Warung Kopine rame kang?” Tanya Kang Ipul,  “Alhamdulillah” jawab Kang Ramelan.


By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar