Senin, 21 Desember 2015

PINTU GERBANG (Rubrik Budaya Ndomblong #3)

Pintu gerbang rumah itu terbuka. 
Pikirmu apa menariknya sebuah pintu gerbang terbuka? Toh sudah biasa pintu gerbang terbuka dan memang pada saat tertentu ia pasti akan dibuka. Apa menariknya juga kita membicarakan pintu gerbang terbuka itu? Bukankah ia hanya sebuah simbol dari status sosial keluarga yang tinggal di dalamnya. Meski kadang, karena keinginan dan hasrat besar tidak sedikit para pemilik rumah membangun pintu gerbang melebihi harga sebuah rumah sederhana ala KPR. Fungsinya pun bukan lagi semata-mata untuk keamanan. Pintu gerbang seperti hendak menunjukkan di level mana status sosial penghuninya berada.

Pintu gerbang lebih dari soal keamanan pemilik rumah. Pintu gerbang adalah soal kepantasan. Ia mereferensi sebuah karakter para penghuni rumahnya. Pintu gerbang adalah sebuah representasi kehadiran paling awal dari psikososial dan ekspresi rumit dunia batin mereka yang tinggal di dalamnya. Semakin tinggi dan gagah sebuah pintu gerbang semakin mendorong masyarakat di luarnya untuk merumuskan pandangan sosialnya kepada para penghuni di dalamnya. Pintu gerbang biasa-biasa saja seperti merepresentasi penghuni di dalamnya sebagai kelompok sosial biasa pula. 

Sementara lain, dari sisi corak dan aneka ragam bentuk pintu gerbang belakangan, juga seperti merepresentasi perkembangan seni arsitektur. Sisi artistis pada akhirnya juga memainkan peranan penting kehadiran pintu gerbang itu sendiri. Pada sisi ini saya ingin mengatakan bahwa hakikat telah tergantikan oleh sesuatu yang bukan fungsi hakikinya. Inilah banalitas antara apa yang dibayangkan dan apa yang menjadi kasunyatan. 

Banalitas sebagai sebuah gambaran dunia yang paradoksal tentang cara arsitektur memaknai modernitas. Hal itu bisa dilihat dari kegagalan mereka dalam memaknai modernitas yang hanya bertumpu pada pemahaman mazhab seni untuk seni. Akibatnya, pintu gerbang seperti sebuah ambang batas antara dunia dalam dengan dunia luar. Dunia dalam sebagai representasi dari kebaikan, rasa aman, merdeka dan pusat spiritualisme baru tentang segala hal yang terkait dengan kepatutan. Sementara dunia luar sebagai representasi dari segala hal yang tak pantas dan tidak patut. 

Mereka yang berada di dalam pintu gerbang itu adalah tipe-tipe kelompok sosial yang terbebaskan. Sementara mereka yang berada di luar pintu gerbang adalah sekelompok sosial yang belum terbebaskan bahkan untuk keluar dari lingkaran nasib mereka sendiri. Karenaya, "tutup pintu gerbangmu…. ", tidaklah lahir dari ruang kosong. Frase itu mencerminkan jenis kegalauan baru manusia-manusia modern. Kegalauan tentang hadirnya sebuah ancaman. Kekhawatiran datangnya sebuah gangguan. Rasa takut yang lahir dari sikap individualisme namun terbungkus oleh cita rasa sebuah karya seni.

Inilah kelompok sosial baru. Kelas menengah yang lahir minus kesadaran sejarah. Tidak melihat perubahan sebagai sebuah proses panjang dari setiap kritik atas sesuatu. Mereka lahir dengan kesadaran  bahwa segala sesuatu telah tersedia dengan baik. Hari ini adalah tugas generasi baru untuk mencecap rasa gurih nikmatnya. 

Maka kebutuhan membuka pintu gerbang dan menutupnya tak pernah menjadi isu sensitif. Tersedia begitu banyak dari kelompok  sosial lain yang mampu melakukan pekerjaan jenis ini.

Persoalannya barangkali akan menjadi lain apabila pintu gerbang itu adalah milik kita sendiri. Mungkin berada di tengah perkampungan tak berpagar. Juga tak ada kelompok sosial lain yang diperbantukan melakukan pekerjaan jenis ini. Dan lupa adalah sebuah alasan. Tidak lebih tidak kurang. Sementara membukanya adalah sebuah keharusan. Menutupnya kembali adalah hal yang sangat remeh-temeh. 
Sudahkah kau tutup gerbangmu?! Wallahu’alam. 
Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation


Tidak ada komentar:

Posting Komentar