Sabtu, 05 Desember 2015

SRAWUNG (Rubrik Budaya Ndomblong #2)

Srawung (Jawa) umumnya dimaknai sebagai bergaul atau membaur. Di masyarakat Jawa umumnya srawung bisa dilihat dalam segala kegiatan kemasyarakatan. Misalnya, acara mantenan, kematian, kerja bakti, ronda, arisan RT, ikut tahlilan, dll. Srawung tak sekadar ikut partisipasi sosial di masyarakat. Kadang dalam srawung juga kita memberi sesuatu bersifat material. Memberi sumbangan kepada tetangga di lingkungan kita tinggal karena adanya peristiwa khusus seperti; orang sakit, kematian, mantenan dan kelahiran jabang bayi. 

Srawung adalah bentuk dari partisipasi sosial. Ia juga berupa semangat solidaritas yang muncul sebagai sesama warga. Sebuah tradisi yang menunjukkan rekatan-rekatan sosial antar masyarakat terjalin sedemikian rupa. Srawung merujuk pada kerelaan individu untuk menjadi bagian dari suatu masyarakat di mana ia tinggal. 

Seseorang dianggap bermasyarakat apabila ia mudah dan mau srawung. Mereka yang jarang srawung akan dibicarakan banyak orang. Apalagi tidak pernah. Pasti akan digunjingkan oleh anggota masyarakat. Srawung dengan demikian menjadi semacam ukuran seberapa sering interaksi sosial seseorang dalam hidup di masyarakat. Seberapa besar dirinya merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas. Semakin srawung menunjukkan dirinya adalah seorang yang mudah bersosialisasi dan peduli pada lingkup sosialnya sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas srawung bisa dipahami dari aspek-aspek kehidupan di luar lingkup sendiri. Bagaimana seseorang mampu menempatkan dirinya di tengah ruang lingkup berbangsa. Dalam srawung kita diajarkan untuk bersikap tepo selira. Sebuah ajaran etika sosial Jawa untuk memahami bahwa kita tidak bisa hidup sendirian. Bermasyarakat harus memiliki tenggang rasa yang tinggi. Punya toleransi yang besar. Dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Srawung dalam ruang lingkup berbangsa artinya kesiapan kita untuk belajar dari berbagai macam perbedaan. Sebab kita hanyalah satu bagian. Satu komunitas dari sekian ragam komunitas yang berhak hidup sebagai sesama warga bangsa. Sebagai sesama warga negara. Dengan belajar dari perbedaan-perbedaan itu kita menjadi lebih mengerti titik tengkar kita dengan yang lain. Kesadaran pada pengetahuan kita itu (belajar berbeda) menumbuhkan sikap toleransi (tepo selira).

Belajar dari perbedaan pada akhirnya adalah upaya mewujudkan sikap toleransi itu sebagai bentuk apresiasi (penghargaan) kita pada keberadaan orang lain. Inilah substansi dari srawung yang kita bicarakan di awal. Di mana inti utama dari semua hal berkait srawung kebangsaan dan kebernegaraan itu adalah menyatunya tindakan kita berdasar atas penghargaan kepada aspek-aspek di luar diri kita sendiri. 

Ini adalah pekerjaan yang membutuhkan waktu, tenaga dan pikiran. Membutuhkan upaya serius melalui sistim pendidikan. Bahwa hakikat pendidikan bukan pada pencapaian-pencapaian prestasi formal sesuai ukuran-ukuran kognitif semata. Lebih dari itu pendidikan semestinya mengacu pada pembentukan sikap mental masyarakat yang mengacu pada kesadaran umum. Yakni; kesadaran yang bertumpu pada nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. 

Bahwa seseorang dilahirkan berbeda dengan kita merupakan kodrati dan tidak bisa diubah. Menjadi Cina, Arab, Jawa, Melayu, Sunda, Bugis, Batak, dll., bukan pertama-tama sebuah pilihan. Tetapi ia adalah given. Dan, bangsa yang baik adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan-perbedaan ini menjadi poros utama membentuk bangsa yang kuat berdasar pada nilai-nilai tradisional-genetikal mereka.  
How much srawung are you?! Wallahu’alam.

Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar