Selasa, 24 November 2015

Menjadi Jawa

"Al  heb Ik een uitgesproken westerse opvoeding gehad,
toch ben en blijf Ik in de allereerste plaats Javaan".

"Walaupun Saya telah  mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya,
namun pertama-tama Saya adalah dan tetap adalah orang Jawa".

(Cuplikan  Amanat Penobatan HB IX,  18 Maret 1940)
Kalau saja yang mengatakan demikian adalah seorang yang tidak begitu dikenal barangkali bisa berbeda dampak sosio-kulturnya. Cuplikan di atas berasal dari seorang yang secara sosio-kultur berada di level teratas dari struktur budaya Jawa. Seseorang yang dianggap penguri-uri kabudayan. Bukan hanya karena status beliau sebagai seorang raja. Lebih dari itu karena beliau memiliki integritas dan visi yang luar biasa bagaimana idealnya sosok Raja Jawa.
Sri Sultan Hamengkubowono IX. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di luar kraton. Sempat mengenyam pendidikan formal di Belanda. Ketika Sri Sultan HB VIII sakit, Dorodjatun, demikian nama kecil Sri Sultan HB IX ini, diminta ayahnya kembali ke tanah air. Di umur masih muda (sekitar 28 tahun) beliau menerima keris Djoko Piturun. Keris ini merupakan simbol penyerahan kekuasaan seorang raja Jawa kepada calon penerusnya kelak. Tidak lama berselang Sri Sultan HB VIII wafat. Dorodjatun diangkat -oleh pemerintah Hindia Belanda saat itu-sebagai raja Jawa menggantikan Ayahnya.
Oleh pemerintah Hindia-Belanda, barangkali dengan mengangkat Dorodjatun sebagai raja akan memberi jalan lebih mudah bagi mereka mengikat kontrak kekuasaan dengan kraton. Nyatanya sampai 4 bulan sejak naik tahtanya Dorodjatun, pemerintah Hindia-Belanda menghadapi negosiasi yang alot dengan raja Jawa ini. Dalam buku "Tahta Untuk Rakyat" diceritakan bagaimana kemudian Sri Sultan HB IX akhirnya begitu mudah menandatangani perjanjian kontrak kekuasaan itu tanpa melihat lagi apa isi dari perjanjian itu sendiri.
Dibalik peristiwa itu muncul kisah mistik yang melatari kesediaan Sri Sultan HB IX begitu mudahnya menandatangi perjanjian itu. Seperti di ceritakan dalam buku itu, beliau mendapatkan 'pesan' dari para leluhur: ""wis tekno wae le, mengko bakal lungo dewe" (biarkan saja anakku, nanti (Belanda) akan pergi sendiri.  Belum hilang rasa keterkejutan pemerintah Hindia Belanda dengan kengototan HB IX ini tiba-tiba dibuat terperangah oleh sesuatu yang tak terduga. Beliau mau menandatangani perjanjian itu dengan cara yang tidak logis untuk ukuran cara berpikir Barat. Benar adanya pula, Belanda tak lama setelah itu pergi. Jepang datang dan pergi tak lama hanya sekitar 3,5 tahun.
"Walaupun Saya telah  mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama Saya adalah dan tetap adalah orang Jawa". Sultan HB IX telah pergi. Jejaknya membekas dalam ingatan kolektif masyarakat khususnya Jogjakarta. Kepemimpinannya meninggalkan kesan mendalam. Pergaulannya yang mendalam dengan rakyatnya mengisyaratkan apa yang menjadi adagiumnya itu bukanlah omong kosong seorang pemimpin. Beliau membuktikan kata-katanya itu dengan tetap memiliki laku hidup sebagai orang Jawa tulen. Pendidikan Baratnya tak membuat dirinya kehilangan kejawaan.

Lantas apakah sikapnya yang njawani itu mengesampingkan peran politiknya di tahun-tahun revolusi pisik mempertahankan kemerdekaan? Dibalik sikapnya yang sangat njawani justru menyimpan semangat dan komitmen yang besar bagi terbentuknya NKRI. Atas prakarsa beliaulah, seperti dikemukakan kawan saya, Batara R. Hutagalung (seorang penulis buku sejarah otodidak), serangan 6 jam di Jogja itu disusun dengan tujuan menggelorakan semangat bahwa Indonesia itu ada dan adalah kewajiban dunia mengakui keberadaannya.

Menjadi Indonesia sebagaimana ditunjukkan oleh Sri Sultan HB IX bukanlah melepas atribut kejawaan (etnisitas), dalam hal mana tidaklah mungkin seseorang dapat menjauh dari asal usul dirinya sendiri. Sebaliknya menjadi Indonesia adalah menghidupkan apa yang secara genealogis telah inheren dalam dirinya. Saat ada kesempatan Jogjakarta dapat saja menjadi kerajaan yang terlepas dari republik justru Sri Sultan HB IX sekali lagi menunjukkan komitmennya yang besar pada bangsa yang dicintainya ini. Etnisitas bukan merupakan aib yang harus ditutupi semata karena kita ingin menjadi lebih Indonesia.



Keinginan yang besar dan kehendak baik untuk belajar pada apa yang berbeda, berusaha memahaminya dan mengapresiasi keberadaanya menjadi semacam keharusan moral. Etika nasionalisme kita akan tumbuh ke arah kesadaran baru di tengah-tengah situasi polarisasi sosial akibat ketidaksiapan mental dalam politik. Wallahu'alam.

By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar