Kamis, 05 Januari 2017

Kopi Ndomblong &Daipilong 2016-2017

 

 
ngopi solo, ngopi jogja, ngopi bantul , ngopi sleman, ngopi sukoharjo, ngopi boyolali, ngopi pedan, ngopi klaten, ngopi malang, ngopi blitar , kedai kopi solo, kedai kopi jogja, kedai kopi di solo , kedai kopi di jogja, tempat ngopi di solo, kedai kopi jakarta, tempat ngopi di jakarta, kedai kopi di jogja, kedai koi di boyolali, kedai kopi di sukoharjo, kedai kopi di klaten, kedai kopi di malang, kedai kopi di blitar, keadi kopi di bantul , ngopi bandung, ngopi kopi, warung kopi solo, warung kopi jogja.

Senin, 17 Oktober 2016

KOPI WALIK

Tradisi minum kopi yang ada kedai kopi Ndomblong salah satunya Kopi walik , Minum Kopi disuguhkan dengan cara gelas terbalik. Proses pembuatan kopiwalik ini bisa menggunakan dengan cara di seduh , seperti kopi tubruk biasa dan ada yang di masak langsung dengan air tergantung selera dari Penikmat kopi yang datang ke kedai .
Sensaasi minum kopi bagi penikmat kopi memang berebeda beda , dan kopi walik menjadi salah satu Menu dan Pilihan  cara minum kopi Kedai Kopi Ndomblong. Menikmati kopi walik memang susah-susah gampang jika baelum terbiasa. Awal mula kita harus memengang piring atau tatakan yang dipakai sebagai alas. Selanjutnya tangan yang satu membuka gelas perlahan agar kopinya tidak tumpah. membasahi pinggir tatakan , dan kopi siap di sruput..
Monggo para penikmat kopi yang pengen merasakan sensai ngopi kopi walik bisa datang ke kedai -kedai Kopi Ndomblong. Selain sensaasi menikmat kopinya juga tersedia Pilihan jenis kopi sesua dengan selera di kedai.. " Tak Ada yang Istimewah dari Kopi Ndomblong Kecuali Penikmatnya Jadi Saudara".

Selain Kopi walik di kedai Kopi Ndomblong juga bisa menikmati minuman Menu Kopi Londo ( latte) , Tanpa Ampas, Soklat dan Minuman lainnya ,Baik Panas dan dingin juga tersedia bermacam menu makanan sabagai teman menikmati kopi mu kawan.

Dengan Tetap melestarikan Budaya ( aksara jawa ) dan Tradisi Ngopi , menu kedai dan matprom pun kami menggunakan aksara Jawa ...( ndomblong toh :) ....tapi jgn khawatir yang belim bisa baca akasara jawa ada japlakannya hehehe,,,
salam Ndomblong

Sabtu, 21 Mei 2016

ALAMAT KEDAI & TOKO OLEH-OLEH KOPI NDOMBBLONG

Lokasi Kota , Alamat Patner Kedai-kedai , Toko Oleh - Oleh serta Resseler Kopi Ndomblong :

1. Jogja, #DAIPILONG Bukit Patuk Gunungkidul ( perempatan patuk kekanan 500m)
    Telp /sms/ wa : 0878 3946 4811
2. Blitar, #DAIPILONG Pari Gogo Jl.Suryat 112 Sanan Wetan Blitar Jatim 
    Telp/sms/wa : 0875 9148 4675
3. Solo, #DAIPILONG 1,  Jl. Imam Bonjol 52 Kampung Baru 
     Telp/sms/wa  : 08980888066
4. Solo, DAPILONG SUKOHARJO, Jl.Sumba no.5 Sukoharjo Jateng 
    Telp/sms/wa : 08562524025
5. Solo, #DAIPILONG ALAS ANYAR  kandang menjagan Kartosuro JL.solo-jogja ( dari arah
    jogja depan Bengkel Mega Merapi belok Kiri 150 m) 
    Telp /sms/wa : 0856 4188 5682  
6. Coffee Mobile #DAIPILONG mobile ( FoodTruck)
     Telp /sms/wa : 081567604215 -082226017726
7.Malang,  #DAIPILONG , Djava Steak & Kedai Kopindomblong,  Jl.Ronggowuni 51    
    Singosari Malang Jatim.
     Telp /sms/wa : 0812 1126 1609
8. Solo, #DAIPILONG PGS,  Hal Parkir Pusat Grosir Solo (PGS) Jl.Sunaryo no 1 Gladag 
    Telp /sms/wa  : 08221167 5256
9. Solo, #DAPILONG DANUKUSUMAN , Jl.Bremoro 8 Danukusuman Surakarta 
    Telp/sms/wa : 08112639338
10. Jogja, DAIPILONG GENDOL Dam Jambon Kalo Gendol Sindumartani Ngemplak Sleman    http://gendoltour.blogspot.co.id/2015_06_01_archive.html?m=1mmm
     Telp /wa/sms : 0857 2586 7848
11.Jakarta,  DAIPILONG BIDAKARA PANCORAN - Jl.Sapto 2 Menteng Dalam Tebet 
     Telp /sms/wa : 087822987956
12.Jogja, DAIPILONG VAN PARIS  ,Jl. Parangtritis km 5,7 Tarudan Sewon Bantul
      telp /sms/wa : 0877 2251 5336
13.Boyolali, DAIPILONG LABA_LABA , Simpang lima Bunderan Boyolali kota 
      Telp/sms/wa : 082327176664
14. Klaten, DAIPILONG KAKUNG SABLENG , Jl.Kartini 3/by pass klaten 
     Telp  : 0272 321594
15.Klaten,  DAIPILONG JUWIRING  Omah Trasan Tradisional Resort & Gallery juwiring
 
16. Jakarta, DAIPILONG AIK KOPI  , Jl.Meruya Selatan 26, Meruya Selatan , Kembangan
      Jakarta Barat DKI 11610

17. Klaten, DAIPILONG KOPI BADHALA , sebelah timur Lapangan Pedan Klaten.
Buat Oleh-oleh dan Seduh Kopi di Rumah tersedia Dalam Kemasan 100 gram selain di kedai di Pusat Oleh-oleh :
1. MIROTA BATIK Jl. Malioboro dan Jl. Kaliurang Jogjakarta
2. TOKO ERLANGGA - Jl. Radjiman Solo 
3. Bandung - hub : 081223663705
4. Varia ABON Nonongan Solo
5. Wonogiri - 081221040238




untuk patnership kedai/cafe/ cofeeshop Telp/sms/ wa : 0816671555

salam kopi nusantara - kopi asli indonesia
COFFEE - CULTURE - KNOWLEDGE

Jumat, 26 Februari 2016

WASILAH (Rubrik Budaya Ndomblong #6)

Perantara, dalam bahasa Arab disebut sebagai wasilah. Fungsi utamanya sebagai komunikator. Seseorang mengambil peran seperti ini pertama bukan karena keinginan sendiri. Peran seperti itu datang secara alamiah. Dasarnya karena dianggap seseorang itu dianggap luwes. Seorang yang mudah bergaul. Mampu mengomunikasikan dengan baik apa yang menjadi keinginan banyak pihak. Tidak semua orang cocok dengan peran ini. Sebabnya karakter setiap orang berbeda. 

Seorang yang mengambil peran seperti ini membutuhkan jiwa besar. Kesediaan untuk menjadi 'bak sampah', tempat setiap orang membuang keluh kesah. Harus siap menjadi 'bak penampungan', tempat setiap orang meminta dan mengusulkan sesuatu. Seseorang yang mampu mengambil peran seperti ini kebanyakan adalah tipe orang yang inklusif. Karakter pribadinya bisa diterima semua pihak. Dan tentunya orang ini punya integritas.

Kebutuhan pada seseorang dengan peran ini bermula dari perjumpaan sekian banyak karakter manusia. Setiap unsur dari karakter orang per orang itu tidaklah sama. Untuk sebagian besar barangkali saling bertentangan. Karena umumnya setiap orang berkeinginan untuk didahulukan jika terkait dengan kepentingan pribadinya. Seorang dengan peran inilah yang biasanya mampu mengambil posisi sebagai tempat klarifikasi.

Seperti teman saya, Tibob (TB. Ade Fahmi). Di komunitas di mana saya menjadi bagian itu Tibob adalah seorang yang tepat dengan peran ini. Dialah yang selalu menjadi pusat komunikasi dari semua anggota komunitas. Sebuah gagasan di komunitas tidak dapat terlaksana dan dikehendaki semua pihak kecuali bila teman saya itu mulai melakukan aksinya. 

Di setiap komunitas dan masyarakat tertentu dari setiap level sosial, jenis seorang dengan peran seperti ini pasti ada dan sosoknya adalah kunci. Meminjam Gramsci, sosok dengan peran seperti ini merupakan intelektual organik karena kemampuan utamanya dapat mempertemukan dan mengomunikasikan semua dan setiap kepentingan anggota komunitas. 

Apa yang membuat peran seperti ini ada di semua level sosial? Pada dasarnya manusia bukan makhluk sosial paling baik. Manusia lebih buas dari jenis hewan carnivora manapun. Tapi manusia juga lebih jinak dari hewan herbivora apapun. Kedua unsur ini ada pada diri manusia. Karenanya manusia disebut sebagai jenis hewan omnivora, pemakan semua yang dimiliki oleh kedua jenis hewan carnivora dan herbivora sekaligus. Pembedanya dengan kedua jenis hewan lain adalah karena kita mampu berbicara. Al insan hayawaanun naathiq. Manusia adalah jenis hewan yang dapat berbicara. 

Dengan berbicara kita mampu mengutarakan keinginan. Bisa mengekspresikan semua hal; keluhan, marah, susah, senang, dll. Batasan dari setiap kehendak yang kita utarakan adalah insting agresi yang inheren ada pada setiap orang. Peran seorang perantara itulah yang mampu meredam insting agresi itu. 

Dalam perkembangan berikutnya, perantara itu bermetamorfosa dalam bentuk lembaga-lembaga keterwakilan (perwakilan). Semua hasrat manusia agar tidak mengganggu sistim keseimbangan sosial dan alam diredam melalui lembaga-lembaga seperti ini. Meskipun demikian karena kecenderungan insting agresi kita tak punya tempat untuk mengalah, mengakibatkan lahirnya penyimpangan-penyimpangan.  Rasa tidak puas pada sesuatu melahirkan protes. Karena itu dibutuhkan ---kembali lagi--- jenis orang yang berperan seperti kita bicarakan.

Kita bicara revolusi mental dalam konteks apa yang saya kemukakan artinya mencoba bicara soal manusia sebagai subyek perubahan. Salah satu aspek penting dikemukakan di sini bahwa revolusi mental, berkait dengan keanekaragaman sosial seperti kita, haruslah bertumpu pada sistim pengetahuan di setiap komunitas atau masyarakat tertentu. Sebab sistim pengetahuan yang berjalan itu melahirkan perilaku. Ekspresi perilaku itu adalah produk budaya. 

Bicara soal budaya artinya kita sedang berpikir tentang kebudayaan dalam suatu komunitas atau masyarakat. Dus, berbicara revolusi mental dengan sendirinya adalah bicara tentang revolusi kebudayaan. Karena itu tanpa melihat aspek-aspek budaya dalam suatu komunitas revolusi mental hanya akan menjadi mesin produksi tanpa jiwa.
 
Wallahu a’lam.

By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation


Kamis, 07 Januari 2016

ZIARAH (Rubrik Budaya Ndomblong #5)

Setiap singgah di warung kopi sebuah tempat ziarah saya selalu bertanya; bagaimana mereka –para ahli kubur itu—hidup? Bukankah setiap kematian itu hakikatnya sama? Orang-orang shaleh. Para begajul jalanan. Mereka yang hidupnya ugal-ugalan. Atau para salik (pencari kebenaran)? Kematian adalah berpindahnya ruh (jiwa) kita ke sebuah tempat entah bernama apa. Hampir semua keyakinan melihatnya sebagai perpindahan. Tubuh tak bergerak itu hanyalah bungkus dari jiwa-jiwa kita yang tak pernah mati. Hakikatnya mereka hidup. Hanya kehidupan mereka itu bukan di tempat yang disebut fana’ lagi. 

Kita sering menyebutnya sebagai “pulang”. Maka di setiap peristiwa kematian kita selalu mendengar berita tentang pulangnya si Anu atau kembalinya si Fulan. Menyebut kematian sebagai peristiwa pulangnya seseorang mengandung makna kesementaraan. Berpulangnya seseorang artinya kembalinya dirinya ke sebuah tempat yang dipahami sebagai sumber dari segala asal muasal. Dunia sebagai tempat sementara ibarat ruang atau tempat kita mampir untuk berikutnya melanjutkan perjalanan kembali. Karena sifat kesementaraan itu tidaklah lama. Orang Jawa menyebutnya dengan “urip mung mampir ngombe”. Hidup hanya sekadar mampir minum.

Tidaklah lama bagi seseorang untuk minum. Kita bisa mengukur seberapa lama seseorang minum. Tetapi jejak seorang yang minum itu tercatat di setiap persinggahan yang diampirinya. Selalu ada  ingatan atas diri seseorang. Ingatan itu bergantung dari seberapa kita meninggalkan kesan positif-negatif di tempat persinggahan, tempat mampir itu. Sebab ada saja mereka yang mampir minum lalu lupa pada kewajibannya. Semua kesan itu bergantung dari apa yang dilakukan kita di tempat singgah sementara itu.

Kembali pada pertanyaan saya di awal, bagaimana mereka hidup? Jika sampai hari ini bahkan sejak ratusan tahun sekian abad dari kematiannya, seseorang masih memberi  kehidupan bagi orang lain. Lihatlah betapa tempat-tempat ziarah itu tak pernah sepi pengunjung. Mereka datang silih  berganti. Dari tempat-tempat yang jauh. Butuh pengorbanan waktu, tenaga dan dana. Kegairahan untuk ziarah tak pernah surut.

Mobilitas datang dan perginya para peziarah itu berdampak langsung di tempat peziarahan. Melahirkan kebutuhan; tempat istirahat, warung kopi, penjual makanan dan minuman, aneka barang kerajinan dan tanda mata, peralatan ibadah, bahkan sekumpulan para pengemis setia menunggu lemparan koin demi koin dari setiap peziarah yang singgah. Ribuan bahkan puluhan ribu orang datang dan pergi memberi manfaat ekonomi kepada para pedagang, rumah-rumah sekitar tempat peziarahan. 

Rasanya sulit bagi saya untuk mengatakan hiruk pikuk para peziarah itu sebagai festival bid’ah. Apalagi sampai menyebutnya sebagai ritual syirik yang jauh dari ajaran agama. Saya tak bisa dan tak kan pernah sampai kemampuan membaca isi hati setiap orang. Bahwa mereka datang ke sebuah makam yang dikeramatkan dengan tujuan –hanya dirinya dan Tuhan yang tahu—bukanlah wilayah saya untuk menghakiminya. Tidaklah kita juga dapat mengerti niat dan hati seseorang. Kapasitas kita barangkali hanya mampu memaknai tindakan-tindakan lahiriah seseorang. Namun bukan berarti dengan kemampuan itu kita dapat menyimpulkan semua isi hati mereka, para peziarah itu.

Ziarah sebagai peristiwa sosial (budaya) dengan segala dampaknya --buat saya-- memberikan sebuah gambaran positif tentang seseorang yang diziarahi. Saya yakin mereka yang diziarahi itu pastilah orang baik-baik di waktu hidupnya dulu. Keyakinan saya  tidak berubah. Mereka di masa lalu pasti telah melakukan sesuatu untuk orang banyak. Mendoakannya hakikatnya adalah mendoakan diri sendiri. Manfaat itu  kita rasakan hingga kini. Mengetahui sejarah bagaimana mereka hidup adalah cermin. Ia memantulkan jejak pembelajaran pada kita. Maka mendatanginya (menziarahinya) adalah ungkapan dari rasa syukur kita atas apa yang dilakukannya di masa lalu. 

Rupa-rupanya sedikit dari kita mau belajar tentang cara mereka hidup. Menganggapnya sebagai masa lalu yang tak perlu ditengok. Kita adalah generasi alpalupa. Kita tak lahir dari ruang hampa. Dan, bangsa yang besar adalah bangsa yang mau belajar dari masa lalunya. Wallahu a’lam

“Warung Kopine rame kang?” Tanya Kang Ipul,  “Alhamdulillah” jawab Kang Ramelan.


By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation

Jumat, 01 Januari 2016

POHON BERAS (Rubrik Budaya Ndomblong #4)

Revolusi Mental

adikku ada-ada saja lagunya
masak nanya enyak tentang pohon beras
nyak begitu tanyanya emang beras ada pohonnya

tersentak aku oleh celotehnya lugu
aku dulu tak pernah begitu
aku jadi terharu

di kecilku dulu
sawah luas selebar jagat
pohon padi daun cincau pernah kucuri

adikku kecil tak lagi alami
bau lumpur nimba kalenan juga tak lagi
jangankan ani-ani pohon padi pun tak ngerti

. : ah, apa begitu perubahan ini

(Pohon Beras, 2009)


Sebuah puisi saya kutip di atas, sebagai pembuka tulisan ini. Puisi yang Saya tulis itu bercerita tentang sebuah generasi yang tak lagi mengenal pohon padi. Apakah ini sebuah ironi? Ironi dari masyarakat kita hari ini. Masyarakat yang konon dikenal sebagai masyarakat agraris, tetapi generasinya hari ini sudah tidak lagi mengenal pohon maha penting dalam kehidupannya. Sebuah pohon yang dahulu pernah membuat kita bangga karena keberhasilan swasembada pangan. Kini tidak semua anak dari generasi hari ini yang betul-betul mengenal pohon ini.

Seberapa penting generasi kita hari ini mengenal pohon-pohon yang begitu melekat dalam kehidupan mereka? Apakah sepenting mereka belajar bagaimana berselancar dengan baik di dunia internet? Atau keberadaannya tidaklah terlalu penting untuk diketahui. Karena mengenalnya adalah symbol ketertinggalan. Tidaklah penting generasi kita tahu apa dan bagaimana pohon ini. Cukup mereka mengerti bahwa beras adalah kebutuhan pokok mereka. Membelinya adalah cara termudah untuk mengonsumsinya.

Generasi kita hari ini, yang tak mengenal apa dan bagaimana pohon ini, rasanya tidak layak memimpin negeri ini. Bagaimana mereka mampu merasakan kebutuhan masyarakat luas bila kebutuhan dasar dari masyarakat dan dirinya sendiri saja, mereka abai. Sulit membayangkan seorang pemimpin masyarakat sama sekali tidak tahu bahwa ia dibesarkan dari pohon ini. Mengenal pohon padi adalah upaya mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri adalah jalan menemukan sikap mental apa yang hendak dibangun.


Modernitas dan perubahan mengasingkan  kita pada masa lalu. Kerap kita mengalami amnesia sejarah. Bahwa menemukan masa lalu tidak terlalu penting bagi upaaya untuk maju. Hari ini kebutuhan kita adalah bagaimana tampil sejajar dengan orang lain. Bahkan kalaupun belum sejajar bagaimana caranya disejajarkan. Tidaklah penting cara berpikir seperti apa yang kita gunakan. Tetapi, apa yang bisa kita tampilkan adalah sebuah pencapaian prestasi yang hebat. Meski, untuk itu kita hanya perlu menempelkan cara berpikir kita pada sekelompok masyarakat lain yang kita anggap lebih hebat. Tak penting isi (substansi). Terpenting adalah orasi.

Saya kira salah satu factor penting yang perlu dipikirkan dalam gerakan “revolusi mental” ini bersikap kritis pada hal-hal yang remeh temeh seperti ini. Mengajarkan generasi muda kita mengenal pohon padi bukan pekerjaan yang sia-sia. Mendekatkan mereka pada hal-hal yang sesungguhnya sehari-hari mereka makan, dirasakan dan hadapi adalah pekerjaan kebudayaan yang teramat penting. Ini jauh lebih penting dari sekadar membuat program beasiswa anak-anak penting untuk sekolah ke luar negeri.

Revolusi mental tidaklah berasal dari ruang kosong. Ia pastinya berlatar kesadaran sejarah. Mau mengerti apa yang seharusnya menjadi bagian dari wilayah kesadaran kolektif jauh lebih penting dari sekadar kesadaran yang bersifat parsial. Karenanya, berbicara revolusi mental pada dasarnya kita sedang berusaha untuk mengerti latar kita terlebih dahulu. Apa dan bagaimana kita di masa lalu. Bagaimana kita berpijak hari ini. Dasar utama dari semua itu adalah kesadaran untuk mencoba melihat dengan jernih masa lalu kita. Memilahnya. Menemukan sesuatu yang berharga. Menjadikannya sebagai modal social kita hari ini.

Saya kira, ke arah sanalah gerak revolusi mental kita bisa dimulai. Seperti tersirat semangatnya dalam sebuah puisi dibawah ini:

ingatanku sedang mencari hulu
agar tepat jalan ke bentang muara
setiap berhenti singgah selalu sempat kupandang
ganggang lumut cere sepat rumput ilalang

di kampungku tak kutemukan laut
kuserahkan saja padamu pengartian gelombangnya
aku sendiri merasa asik saja menganyam jaring
memastikan waktu menangkap ikannya

di tempatku dulu biasa memanggil semut
dengan mantra katelku aliya kusebut
sebagai pemintal benang
agar datang semut-semut geramang

di sana tak ada yang mencintai puisi
seperti caraku saat ini
tetapi ibuku selalu berlinang
jika kubacakan padanya berulang

(Declare, 2009).

Mungkin suatu saat kita akan dipertemukan dengan sebuah pertanyaan, “Apa Jawa punya aksara?”. Wallohu a’lam.


By Akhmad Fikri Af
Published by ndomblong corporation